Sakit maag alias gastric ulcer adalah penyakit yang sering diderita orang-orang yang kurus, atau tadinya kurus, dan tidak menutup kemungkinan diderita oleh orang dengan berat badan extra juga. Gejala sakit maag, seperti perut kembung, muat dan nyeri lambung merupakan gejala-gejala yang umum dirasakan penderita sakit maag. Tapi tidak semua orang tau, sakit maag akut juga dapat berpengaruh ke persedian tubuh dan radang pernapasan. #serius

Tadinya saya tidak percaya waktu didiagnosa dokter kalau saya adalah salah satu penderita sakit maag kronis dan akut (pantesan saya langsing ya). Yang benar saja, kan saya makannya teratur, makan makanan sehat, berolahraga, tidur cukup 8 jam sehari, masa sih bisa didiagnosa seperti itu. Di umur 20-an, saat tubuh masih optimal, tidak banyak sakit penyakit yang terasa, seringkali malah kita menganggap enteng penyakit *bener ga? hehe. Bener kata orang, kesehatan yang tidak dijaga sejak dini akan menuai akibat, yang sekarang saya rasakah di usia 30-an.

Dulu saya bisa bertahan hidup dua hari dengan makan keripik kentang saja (satu bungkus extra besar Ch*t*to untuk dua hari). Karena waktu itu masih belum ngerti soal hal-hal sehat, dibenak saya makan keripik kentang tidak akan membuat saya gemuk, hitung-hitung diet kan. Terkadang saya juga bisa makan 2 hari sekali, entah itu karena sibuk atau malas makan. Kebiasaan ini saya jalanin selama 4 tahun kuliah, dan segera saya tinggalkan segera setelah lulus. Karena udah paham kesehatan apa karena udah dapat gaji ya? hehhehe

Saya menuai sakit maag ini dari kebiasaan buruk waktu kuliah. Sekarang kalau terlambat makan, rasanya kembung, kalau makan pedes kebanyakan rasanya enak. Yang belakangan ini yang repot. Sebagai orang Sulawesi sejati, makanan pedas adalah kegemaran saya. Mana enak makan kalau ga asin plus sambal. Nyeri lambung jarang bahkan hampir tidak pernah saya rasakan kalau terlambat makan atau makan pedas. Tapi sebagai gantinya, saya beberapa kali mengalami kecentit alias otot terasa kejepit, aka nyeri otot. Pernah kecentit di kaki, pernah juga kecentit di pinggang dan punggung.

Asam lambung berlebih ternyata dapat menyebabkan peradangan pada otot. Tentu hal ini perlu dukungan lebih dari artikel kesehatan dan penelitian. Pengalaman saya saat kecentit dan setelah susah payah pergi ke dokter, punggung saya diberi 6 suntikan (yang rasa takutnya lebih besar dari rasa sakit disuntik) dan diberi obat maag, ya obat maag. Saya jelas saja kaget, kecentit kok dikasih obat maag, yang bener aja dokter ini. Tapi yang sekolah dokter ya dia, ya saya percaya aja dulu deh. Dokternya ciamik juga sih, kecentit sampai hampir ga bisa jalan, eh besoknya saya sudah sembuh total seperti tidak terjadi apa-apa di hari sebelumnya. Dokter berpesan supaya rajin olahraga dan jaga makan, jangan makan pedas dan jangan terlambat makan, nanti bisa kecentit lagi. Sebagai pasien yang baik, jelas saya iya iyakan :p

Beberapa bulan kemudian, karena bandel nih, pas sibuk saya terlambat makan trus makannya pedes pula (manusia susah kapok sepertinya ini ya), selama dua hari berturut-turut. Eh, tanpa sebab-sebab lainnya, kok punggung saya nyeri seperti encok. Teringatlah sama pesa-pesan dokter yang dilanggar. Iseng-iseng, saya coba makan obat maag, taunya beneran deh nyeri punggungnya hilang #inibukansugesti

Saya tidak mengatakan bahwa jika kecentit atau nyeri otot maka minumlah obat maag. Banyak penyebab lain terjadinya nyeri otot dan radang otot. Tapi ini adalah kondisi tubuh saya pribadi setelah saya pelajari pasca beberapa kasus nyeri otot dan kecentit. Mungkin saja ada beberapa orang juga yang mengalami kejadian seperti saya, kecentit di punggung sampai susah jalan. Jangan semerta-merta manggil mbok tukang pijet, bisa bahaya kalo salah. Lebih baik kita mengerti keadaan tubuh kita dan kebiasaan-kebiasaan kita, diskusikan dengan ahli, sebelum mengambil langkah pengobatan, dan hiduplah dengan kebiasaan yang lebih sehat. dan bagi saya, semoga jangan deh ada kecentit-kecentit lagi, ga enak beneran, jangan aja jadi kayak emak-emak.

Photo credit: topadjustablebed.com