Banyak mikir juga untuk menulis pengalaman sendiri menghadapi depresi, termasuk memikirkan tanggapan masyarakat kita pada umumnya tentang depresi. Tulisan ini adalah pendapat saya bukan melalui penelitian ahli, dan juga saya bukan seorang antropologis. Murni berdasarkan pengamatan saya saja.

Bagi masyarakat kita, depresi adalah hal yang tidak wajar. Kenapa kita bisa sampai mengalami depresi? Bukankah hidup itu untuk disyukuri? Terutama di tempat saya tinggal sekarang, di mana budaya nrimo begitu kental (saya membahas budaya nrimo padatulisan saya sebelumnya. Penyebab depresi bisa beraneka macam, tergantung pada masing-masing orang. Ada seseorang yang saya kenal menjadi depresi karena merasa ditolak oleh orang tuanya setelah segala hal yang dilakukannya untuk keluarga #caripengakuan. Ada juga karena merasa hidupnya gagal karena pencapaian ekonominya tidak kunjung membaik.

Apapun penyebab depresi, bagi yang mengalaminya, tidak ada enaknya. Sifat malas melakukan sesuatu, menunda, sampai tidak ingin keluar rumah untuk bertemu orang bisa saja terjadi. Bahkan beberapa orang dapat menghabiskan waktu dengan tidur atau sekedar tidur-tiduran, meringkuk di bawah selimut dan berharap mereka dapat hilang begitu saja dari dunia ini. Depresi tidak selalu berarti membuat penderitanya akan menghindari semua kontak sosial, kemungkinan mereka akan tetap hadir pada acara-acara sosial tapi tidak terlalu membaur atau tidak begitu terlibat dalam percakapan. Masyarakat kita cenderung menganggap depresi sebagai hal yang tidak perlu dibahas, bahkan bagi beberapa kelompok masyarakat, jenis depresi berat diasosiasikan dengan kegilaan. Hal ini dapat membuat penderita depresi merasa lebih tertekan dan menyembunyikan perasaannya.

Banyak orang membiarkan depresi yang mereka rasakan berlarut-larut sehingga menjadi masalah yang serius dikemudian hari. Mengakui diri sendiri mengalami depresi seperti hal yang memalukan. Mencari bantuan psikiater untuk melewati masa penuh tekanan dibayangi dengan ketakutan dianggap gila oleh orang-orang yang kita kenal. Saat saya mengalami depresi, segala perasaan negatif muncul ke dalam pikiran saya, dan sungguh sulit menceritakan apa yang saya rasakan karena saya sendiri tidak memahami apa yang saya rasakan. Pada akhirnya saya memutuskan untuk berjuang melawan depresi, yang pertama kali saya lakukan adalah saya mencari teman untuk diajak bicara, seseorang yang akan mendengarkan saya tanpa menghakimi apapun yang saya katakan dan rasakan. Proses ini berlangsung berminggu-minggu sampai saya merasa cukup kuat menghadapi diri sendiri dan kegiatan sehari-hari.

Selain berbincang dengan teman, saya juga memutuskan untuk mengunjungi seorang dokter. Tak apa saya dikatain gila oleh rekan kerja, yang paling penting adalah saya bisa segera merasa bahagia lagi. Dokter pun melakukan hal yang sama, berbincang dengan saya. Tapi dengan mengunjungi dokter, saya juga diberikan resep obat yang dapat membantu saya untuk lebih rileks. Obat ini membantu saya untuk tidak terlalu tegang memikirkan kehidupan, dan juga membantu saya untuk memperoleh kualitas tidur yang lebih baik. Ada banyak jenis obat di luar sana, tapi saya memilih obat dengan dosis ringan, walaupun waktu efektifnya cenderung lebih lama, tapi resiko ketergantungan sangat kecil. Terbukti sekarang saya berhenti mengkonsumsi obat ini, saya sama sekali tidak merasakan efek ketagihan dimana saya hanya bisa tenang dengan mengkonsumsi obat tersebut.

Saya juga mulai berolahraga kembali. Ternyata olahraga memang membantu proses pemulihan. Dengan berolahraga, tubuh kita menjadi aktif dan dapat membuat kita menjadi lebih bersemangat. Seperti pepatah, di dalam tubuh yang sehat ada jiwa yang kuat kan? Hehe

Sekarang saya merasa baik-baik saja. Saya merasa bersyukur atas rasa damai yang kembali saya rasakan setiap hari.

Bagi teman-teman yang juga mengalami depresi atau stres, jangan kuatir, hal seperti ini dapat dilalui, asalahkan kita niat untuk kembali bahagia. Dan bagi teman-teman yang mengenal seseorang yang mengalami depresi, tolong jadilah teman yang baik, mendengarkan teman Anda yang sedang sedih. Kehadiran anda untuk mendengarkan lebih penting dari pada saran-saran untuk melupakan semua beban hidup, karena bagi orang yang sedang depresi, sungguh sulit untuk melupakan segalah masalah mereka. Terutama, jangan mengolok-olok bahwa mereka memiliki gejala kegilaan. Jika Anda tidak bisa menjadi teman atau pendengar yang baik, setidaknya sarankanlah mereka untuk menemui seorang ahli yang bisa membantu.

Photo credit: womansday.com