Beberapa bulan ini saya tidak menulis apa-apa sama sekali. Jenuh sekali rasanya. Menulis tentang kejenuhan dan depresi mungkin bukan pilihan terbaik yang saya lakukan. Tapi baik atau buruk, siapa yang tau? Mungkin beberapa orang tidak suka membaca soal kejenuhan dan depresi, sedangkan sebagian lainnya mencari artikel dengan topik ini karena sedang bergumul dengan keadaan yang saya alami beberapa bulan yang lalu.

Ketika kita merasa tidak puas dengan hidup, merasa jenuh dan bahkan menjurus ke arah depresi, tentulah kita merasa hidup itu sulit dan tidak menyenangkan. Pekerjaan terasa monoton, hal-hal yang tadinya senang dilakukan menjadi benar-benar tidak ingin dilakukan, hobi yang kita sukai menjadi tidak menggembirakan, dan aktifitas sehari-hari menjadi membosankan. Mungkin beberapa dari kita yang mengalami hal ini akan bertanya kepada diri sendiri, apa yang terjadi? Perubahan apa yang terjadi di dalam diri kita? Sebagian besar orang akan berusaha untuk melupakan perasaan-perasaan ini dan kembali melakukan rutinitas harian kita. Tapi berapa lama kita akan mengubur rasa jenuh dan hampa yang kita rasakan? Biasanya perasaan yang dibiarkan menumpuk akan menjurus ke arah perasaan hampa atau depresi. Ada yang bilang perasaan ini muncul karena kita tidak “nrimo”

Budaya masyarakat kita, terutama di pulau Jawa, adalah budaya “nrimo’, apa yang terjadi terjadilah. Atau pasrah menerima keadaan atau kejadian yang menimpa kita (kalau ada yang mempunyai pandangan berbeda bisa meninggalkan pesan di kolom comment di bawah). Berhubung saya sekarang tinggal di pulau Jawa, saya berusaha memahami perkataan yang sering saya dengar dari orang-orang sekitar, “nrimo”.

Saya tumbuh besar dengan pemikiran bahwa kita harus berhasil, mempunyai pencapaian yang baik dalam pekerjaan, usaha maupun keluarga. Saya belum pernah menceritakan sebelumnya bahwa saya seorang ibu tunggal, ya saya membesarkan anak saya seorang diri. Terkadang dalam hidup, rencana kita tidak berjalan sesuai keinginan kita. Tapi soal pencapaian yang saya sebut-sebut barusan, saya tidak merasa bahwa saya gagal menjadi ibu. Benar adanya saya bekerja penuh waktu, dan anak saya diasuh oleh Oma (panggilan saya untuk pembantu RT saya sejak saya kecil. Beliau ikut saya pindah ke pulau Jawa untuk menemani anak saya). Saya mempunyai pekerjaan yang cukup baik sehingga saya bisa menyekolahkan anak di sekolah yang cukup baik juga dan mengikutkan anak saya ke beberapa jenis les yang dipilihnya sendiri. Belakangan saya banyak berpikir soal masa depan saya dan anak saya, sampai saya sempat beberapa waktu mengalami depresi (soal depresi akan saya bahas di tulisan lainnya). Saya disebut kurang “nrimo:, nah lagi-lagi kan.

Akhirnya belajarlah saya filosofi Jawa ini. Awalnya saya berpikir bahwa nrimo adalah sekedar menerima saja keadaan yang menimpa kita. Ternyata maksudnya lebih dalam dari itu. Seorang OB (offic boy) yang bekerja di tempat saya pernah menceritakan bahwa kehidupan dia tidak mudah, karena harus menghidupi keluarga dia dengan gaji UMR, dan ini termasuk menguliahkan anaknya. Tapi dia selalu iklas menerima gaji dia dan berusaha yang terbaik agar kebutuhan keluarga terpenuhi entah dengan berhemat atau istrinya membantu dengan berjualan. Bapak ini tidak pernah mengeluhkan gaji yang dia terima selalu bersyukur bahwa anaknya bisa berkuliah. *hebat bener bapak ini – pikir saya. Jadi si Bapak bukan hanya sekedar menerima nasibnya dan tidak melakukan apa-apa, melainkan bekerja sebaik-baiknya dan sembari berdoa bahwa kehidupan dia bisa menjadi lebih baik, terutama bagi anaknya yang sebentara lagi Sarjana *lagi-lagi saya berpikir – hebat aja bapak ini, padahal dengan gaji saya ini saja saya sudah pusing memikirkan bagaimana menguliahkan anak saya (padahal anak saya masih 6 tahun, alamak)

Saya juga banyak berbicara dengan teman-teman lama saya dan sebagian besar juga selalu menggunakan kata iklas, atau menerima apa adanya, bersyukur apa adanya, dan hal-hal lain yang sejenis. Ternyata bukan cuma di Jawa, di daerah lain juga ada budaya serupa. Bahkan Inggrisnya pun ada, Do the Best, God takes the Rest, mirip-mirip aja sih menurut saya. Intinya, kita berusaha dan bersyukur dan Tuhan akan melakukan bagianNya. Bener ga gini sih? hehe

Tentu saja mendengarkan hal ini tidak semerta-merta membuat saya gembira seketika dan berhenti mencemaskan hidup. Saya juga melakukan beberapa hal lain untuk keluar dari stres dan depresi, tapi hal itu akan saya tulis lain hari. For now, edisi curhat sampai di sini saja, ada meeting kantor yang harus dihadiri :)